Tuesday, October 23, 2012

Perhatianmu.. berharga, terbagi & berakhir

16.03

 Aku memejamkan mataku saat melangkah pelan meninggalkan meja pelayanan nasabah prioritas, telingaku menangkap gemuruh riuh rendah obrolan yang bercampur dengan suara datar customer service automatic dari beberapa titik dalam ruangan dingin yang penuh dengan nasabah, deru mesin penghitung uang berharmonisasi dengan suara mesin pencetak yang berkejar-kejaran di jejeran kassa, serta sesekali decit sepatu dan bunyi tep, tep higheels para karyawan yang berjalan mengitari ruangan. Ahh, bunyi higheels, aku menghela nafas panjang. Aku harus segera pergi dari sini sebelum perasaan itu datang lagi. Cengkramanku pada pegangan koper yang sedang ku jinjing menguat, aku merasakan sebentar lagi cengkaraman ini akan menjadi terlalu kuat dan penuh keringat, aku melangkah lebih cepat, memberikan senyum yang terlalu datar untuk seorang petugas keamanan yang membukakan pintu, hampir tersandung saat menuruni undakan menuju parkiran, bahkan aku sempat lupa di sudut area parkiran mana supir sedang menungguku.
Udara dingin kembali menyapa ku dengan ramah saat membuka pintu mobil, aku memposisikan diri duduk persis di belakang supir. Koper  kuletakkan disamping kiri dengan posisi berbaring, sebelum menoleh ke arah luar jendela. Jalanan begitu padat, cuaca pun selalu tak bersahabat saat siang hari seperti ini, jendela-jendela bangunan-bangunan tinggi memantulkan cahaya yang terkadang menyilaukan saat kita melewati sudut-sudut pantul tertentu, aku merasa terlalu tegang, aku menarik tuas untuk merendahkan sandaran kursi, menarik lunggar dasiku, lalu kembali menoleh kearah luar jendela. Pemandangan yang sama seperti beberapa menit yang lalu bahkan dengan deru dan kepadatan kendaraan bermotor yang lebih, jalanan macet total, aku tak bisa melakukan apapun selain membiarkan pandanganku menyapu apa yang terlihat diluar jendela, kemudian aku menyadari pikiranku mulai berhenti berkomentar dan menganalisa sinyal-sinyal yang dikirim oleh indra penglihatan, pemandangan diluar mulai kehilangan fokus konsentrasiku, dan sesuatu dalam kepalaku begitu ringan melayang menyusuri alur memori yang sedang bercerita.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Hari ini adalah hari pertamaku bekerja secara resmi di perusahaan ini, bukanlah suatu hal yang membanggakan ketika kau langsung mendapatkan pekerjaan setelah wisuda (dan liburan selama sebulan penuh setelahnya), jika perusahaan tersebut adalah perusahaan milik orang tuamu sendiri. Namun yang jelas aku bersyukur, aku memiliki minat yang sama dengan ayahku sehingga merupakan suatu kebahagiaan ketika aku harus kuliah dibidang yang ku minati dan disetujui penuh oleh orang tua, dan tentu saja lulus tepat waktu dengan nilai yang baik..maksudku cukup baik.. baiklah, sangat baik. Agenda pertamaku pagi ini adalah mengambil sejumlah dana untuk transaksi dadakan yang akan dilakukan beberapa jam lagi, aku duduk di meja pelayanan nasabah prioritas, dengan perasaan anak muda berusia 22 tahun yang begitu bangga dengan pakaian formalnya.
Aku sedang membaca email di handphone-ku saat aku mendengar langkah kaki yang lebih berirama dan ceria dari seluruh langkah kaki dengan higheels di dalam ruangan itu, tep tep tep, langkah kaki itu semakin jelas, aku rasa dia akan melewatiku, sayangnya tidak, langkah kaki itu berhenti persis di meja tempatku duduk.
“Selamat siang, Pak Reyhan?”
Aku menoleh ke atas,
“Ya, sa…” kemudian aku melihat senyumnya, terdiam beberapa detik, “Ya, saya Pa Reyhan, mba?”
“Selamat pagi Pa Reyhan, nama saya Arieana, kebetulan semua customer service kami sedang melayani pelanggan lain, jadi saya rasa saya sendiri yang akan melayani bapak, kalau bapak tidak keberatan.”
“Iya ga masalah mba, maaf bisa dipanggil Reyhan atau mas Aja.” Masih sulit untuk berbicara dengan yang terlalu formal
Keningnya mengernyit, senyumnya terukir lagi, asimetris dan begitu manis. “Maaf?”
“Saya, saya masih 22 tahun, masih terlalu muda untuk panggilan Bapak?” pernyataanku bernada pertanyaan.
Matanya kali ini ikut tersenyum, “Astaga, baiklah, seandainya diperbolehkan dalam prosedur saya bahkan akan memanggil Adik Reyhan”
Aku tidak bisa tidak tertawa, bahkan, entah kenapa menatap dalam matanya, dan sekilas melihat ada kisah hidup yang mengintip di dalamnya, kisah hidup yang berbisik nyeri berharap untuk dibebaskan.

_ _ _

Semenjak hari itu kami berkawan baik, tidak perlu dipertanyakan bagaimana kami bisa saling bertukar kontak, people in business do that come on! Pada awalnya aku tidak begitu memahami seperti apa rasanya, bahkan terasa datar, namun lambat laun, lemparan kata semangat satu sama lain, ucapan selamat pagi, dan have a nice day, serta perhatian-perhatian kecil menyadarkanku ada sesuatu yang berharga dari sikapnya..terhadapku, dan aku tahu aku pun akan menjadi semakin perduli padanya.

_ _ _

Kali ini aku menjemputnya untuk makan siang, aku rasa ada sesuatu yang membuat aku untuk pertama kalinya menghabiskan seporsi soto betawi, dan ya, senyum asimetris itu lagi, terlalu indah untuk dilukiskan dengan kata-kata, aku bisa saja menyentuh bibirnya setiap kali dia tersenyum, namun dia adalah kawan baikku, lagipula dia tak akan membiarkannya.
Kami tertawa tentang suatu hal namun matanya kali ini tidak, kisah hidup itu mengintip lagi, berbisik dengan halus meminta untuk diungkap.

_ _ _

Aku tahu aku adalah kekasihnya dan dia adalah kekasihku, cara kami memperlakukan satu sama lain begitu mewakili kata-kata resmi yang tidak pernah terucap.
Suatu malam aku melihatnya sedang memperhatikanku saat aku sedang fokus menyetir. Aku membiarkannya. Sepanjang jalan melakukan itu, mengusik hatiku untuk bertanya saat kami tiba di depan rumah.
“Bun..” aku menyapanya.
Dia menatapku tersenyum, “Kau tahu, panggilan seperti itu membuatku merasa menjadi 3 tahun lebih muda”
Aku membalas senyumannya. “Aku tahu aku lebih muda tiga tahun darimu, tapi aku yakin aku sedang berusaha membuatmu untuk tidak merasa seperti sedang berhubungan dengan seorang anak kecil.”
Dia tergelak, kilat matanya begitu sempurna “Baiklah, Bun, dan Unyu. Kau tahu, itu membuatku merasa hidup tidak seberat yang harus dilalui.”
“Aku ingin kau mengucapkannya.” Bisikku lirih
“Hmm, unyu..lo-ve-ly unyu”.
Aku terdiam sesaat, “terima kasih,” lalu memeluknya.
Sepersekian detik aku melihatnya lagi, kali ini raut wajahnya menggambarkan kisah hidup yang begitu ingin diungkap, dan aku masih tidak punya kekuatan yang cukup untuk bertanya tentang hal yang aku bahkan tidak tahu apa.
Dia akan beranjak keluar dari mobil,
“Unyu, makasih buat hari ini, menyenangkan, see you soon, good night.”
“Tunggu,”
“Iyah?”
“Aku merasa kau memperhatikanku selama perjalanan menyetir mobil tadi, ada apa?”
“Aku tidak yakin kau ingin mengetahuinya.” Dia tersenyum geli.
“Aku memaksa..” bisikku lirih
“Baiklah, aku tahu ini terdengar konyol tapi..sadarkah kau bahwa bibirmu begitu tipis?”
Aku membisu, di dalam hati aku memejamkan mata beberapa detik. Aku meraih halus tangannya. “Satu hal tentangmu, perhatianmu..berharga..
Sebuah kecupan aku tinggalkan di bibirnya malam itu.

_ _ _

Aku bahagia….

_ _ _

Astaga hari ini begitu padat, aku merasa seperti buruh otak yang terus bekerja, pertemuan dikantor, rapat dengan klien, menyelesaikan tugas asisten yang sedang liburan selama seminggu, melakukan pengawasan pengiriman barang yang bukan pekerjaanku, bahkan tugas tambahan yang diminta secara personal oleh ayah, aku bahkan lupa ini sudah jam makan siang. Sisi jiwa filosofis ku mengusik dengan pertanyaan mengapa aku bisa menjadi bekerja sekeras ini, aku tiba-tiba berhenti mempelajari sebuah berkas, aku menarik nafas dalam berusaha menemukan sesuatu untuk dijawab. Merogoh sakuku, mengambil handphone dan mendapati 2 missed calls dari Arieana, dan sebuah pesan.
“Unyu, sesibuk-sibuknya kamu, tolong ingat Bun, walaupun sedetik aja”
Aku terkesiap, bohlam lampu dikepalaku menyala, aku menelponnya, berbicara selama 10 menit, begitu senang mendengar suaranya, dia sedang menikmati makan siang bersama teman-teman kantor. Aku senang dengan kalimat yang dia tulis, hal ini membuatku sadar bahwa ada sesuatu yang membuat aku bergerak dengan penuh semangat akhir-akhir ini, dan aku hampir saja mengesampingkannya, kekuatan itu, cinta.
Hanya saja, aku terlalu teledor untuk selalu ingat akan hal ini, namun Arieana adalah sosok yang cukup sabar untuk selalu mengirim pesan yang bunyinya kurang lebih sama.
Aku mencintainya..
Aku perduli..
dan aku khawatir tentang kisah hidup yang bersembunyi samar di raut wajahnya, yang bertirai halus dalam matanya..aku khawatir aku mengetahuinya..dan aku tak mampu menghadapinya…
_ _ _

3 comments: